BEGINILAH CARAKU
MENCINTAIMU
Created By
TieNa
Raudlatul
Agustina Sari
Udara pagi ini cerah,
secerah wajah Nira, Mahasiswi manis yang merasa ketiban durian runtuh lantaran
baru saja bertabrakan dengan seorang Mahasiswa bermata minus namun berkelakuan
plus plus. Baru kali ini Nira jatuh cinta, semenjak SMP. Dia selalu saja cuek
saat ada sorang pria yang mendekatinya, namun tidak untuk yang satu ini, justru
Nira yang berantusias mendekatinya. Pagi itu dia mulai merusuh kelas karena
teriakan suara cempreng nan imut yang keluar dari mulutnya.
“Rinaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!!”
Teriakku pada sahabatku sedari eSeMPe.
“Ihhh, Niraaaaa cwe
cantik koq teriak teriak sih kyak d’hutan az” sahut Karina dengan nada
lembutnya.
“Hehehehee. Kamu tau
gk, aku mau gabung KDK (Kajian Dakwah Kampus) ^_^” Ucapku sambil senyum-senyum
genit.
“Hah, yang bener Nir?.
Alhamdulillah deh, aku dukuuuunnnggg bangett” jawab sahabatku sembari mencubit
hidung mancungku.
“Seneng sih senengg,
gk usah nyubit idung aku jugaaa kallii” ceplos ku sewot.
“Maaf deh sayanngggg,
aku gemes tauuu liat hidungg kamu”. Jawab Rina sembari memegang kedua pipiku.
“Yuk masuk, Mrs. Serly
udah masuk ruang atas nih kata Dewi” Ucapku sembari memperlihatkan SMS Dewi.
***Flash Back***
Suasana kelas begitu sepi membuatku
bosan untuk tetap berada disana, tanpa piker panjang akupun beranjak pergi ke
kantin yang letaknya tak jauh dari ruang kuliahku. Hari ini aku hanya sendiri
karena Rina sedang di sibukkan oleh kegiatannya di KDK (kajian Dakwah Kampus).
Yupzt, para jilbaber berkumpul disana termasuk Rina sahabatku. Rina adalah
seorang gadis manis yang sungguh taat beribadah, Aku mengenalnya semenjak SMP,
saat itu aku sedang sibuk membongkar isi tasku mencari cari dompet untuk
membayar makanan yang telah aku pesan tadi namun aku tidak juga menemukannya,
Rina yang sedari tadi melihatku mulai mendekatiku kemudian menawarkan
bantuannya.
“Maaf,
ada yang bisa aku bantu.” Tanyanya sedikit mengagetkaku.
“Emmm,
iya nih kayaknya dompet aku ketinggalan dirumah deh.” Jawabku masih mencari
cari dompetku berharap aku membawanya.
“Owh,
pakai ini aja dulu Ukh.” Sambungnya sembari menyodorkan uang Rp.20.000.
“Ehh,
kalo aku make in, ntar gimana balikinnya.” Tanyaku bingung
“Kan
kita satu sekolah Ukh, bayarin aja dulu kebetulan aku bawa uang lebih.”
Sahutnya meyakinkanku.
“Emm,
iya deh aku pakai dulu yah Sist.” Jawabku sembari membalas senyum manisnya.
“Iyaaa.”
Ucapnya sambil menganggukan kepalanya yang tertutup oleh selembar kain.
Pertemuan
singkat itu telah menjadiakan kami menjadi seorang sahabat. Kami sungguh bertolak
belakang dia dengan kerudung lebar nan panjang yang selalu menutupi sebagian
dari tubuhnya, berbeda dengan aku yang selalu memakai baju dengan kain
seadanya. Seperti halnya kata tukul, “Don’t judge book from the cover”.
Perilaku ku tak seburuk caraku berpakaian, menurut teman temanku aku adalah seorang
gadis manis bermata indah dan memiliki hidung mancung yang memiliki hati bagai
peri (duuuuiillleeeeee.. Lebee) hanya saja aku belum memakai hijab seperti
halnya Rina.
***Flash On***
Mata kuliah hari ini telah berakhir,
seperti biasa Rina selalu mengajakku untuk mampir kemushola kampus untuk
melaksanakan sholat Dzuhur. Gadis manis pecinta warna biru itu tak pernah
bosan memaksaku untuk ikut dengannya. Namun tak jarang aku juga menolak
keinginannya itu dengan seribu satu cara yang tak kalah maut, meskipun begitu
Rina selalu saja berhasil merayuku.
“Pulaaanggggg yuk, aku
capee nih lagian kamu kan lagi puasa yah pastii cuappeee more than I’m, Right?” Tanya ku sembari
merangkul pundak sahabatku.
“Gak koq Nir, aku gk
capek koq” jawabnya lembut diselingi senyumnya yang manis “qt sholat dlu yuk”
ajaknya sembari menarik tanganku.
“Uggggghh. Aku di
rumah az yah, cappeeee” alasanku sambil memegang pundakku yang
terasa sedikit sakit
“Sekarang ajaa yah,
biar entar kalo udah nyampe kos qt bias langsung tidur” rayunya lembut.
“Iyaa deh, iyaaa”
sahutku malas
“Senyuumm donk, masaaa
cemberut gituu” celotehnya sembari menarik kedua sudut bibirku.
“Nihhh senyuummm^_^”
jawabku sambil memperlihatkan gigi.
“Hihihihhih,
lucuuu” sahutnya
yang kemudian menarikku keaarah pintu mushola.
***Skip***
“Niraaaa, aku boleh
nanyaa gk sih?” Tanya Rina sembari menutup buku yang sedari tadi dia baca.
“Bolleeehh boleeeeh,
tanyaa apaa Sista”. Jawabku dengan senyum simpul.
“Eeeemmmm, janjii yah
jangan marah”. Sahutnya sedikit gugup.
“Whaattt, sejak
kapaann sih aku bisa marah sama kamu”. Jawabku sembari melemparkan tubuhku ke
kasur tempat Rina berada.
“Iya yah, hihihiii.
Kamu kenapaa sih koq kepingin ikut rohis”. Tanyanya penasaran.
“Owh itu” aku menarik
nafas panjang kemudian melanjutkan kata-kataku “kemarin aku liat salah satu
senior KDK, cuakkeeppnyaa subhanallah dah”. Jawabku dengan logat betawiku
sembari menepuk pundak Rina.
“Wew, aku kiraaaa kamu
nabrak pintu hidayah dimanaaa gitu eehh gk taunya kepincut senior KDK toh”. Ucap
Rina sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
“Hahahhaaaa. Doa az
sayaangg siapa tau ini cara Allah ngabulin doa kamu selama ini” sahutku sembari
mengacak jilbab Rina.
“Uuhhh,
kok ngacak ngacak rambut aku sihh.” Celotehnya sembari memanyunkan mulutnya.
***Skip***
Hari ini ba’da sholat Jum’at KDK di
mulai, seperti biasa semua anggota berkumpul di dalam mushola kampus yang
begitu sejuk karna cuaca hari itu sungguh cerah. Ini hari pertama Aku memakai
jilbab, meskipun terasa anaeh namun aku tetap memakainya, aku malu jika harus
memakai baju baju yang kainnya pas pasan (kata kata temanku). Hari ini aku
meminjam baju Rina berwana Pink bermotif bunga dengan jilbab senada, Rina
memakaikanku jilbab dengan sabarnya meskipun aku tak bias diam saat dia
memakaikannya.
“Kamuu cantikk bangett
Nir”. Ucap Rina kagum.
“Masa siieehh”.
sahutku malu malu kucing.
“Iyaaaaa, aku aja
sampai pangling”. Celotehnya sembari menyematkan Bros rajut berbentuk bunga.
“Makasiihh yaaa udah
bantu aku memakai semua ini” ucapku pada Rina
“Sieep Okeh, semuaa
sudah beres yuk capcussss” Celotehnya padaku
***Skip***
Seisi mushola melirik padaku, tak
terkecuali Kak Reza. Lelaki manis yang menjadi alasanku untuk bergabung dengn
kelompok ini. Dia begitu menarik dan mempesona meskipun dia tidak bergaya
seperti layaknya lelaki jaman sekarang. Sungguh menjadi tantangan tersendiri
bagiku untuk menaklukan hatinya.
“Eheem, Ukhti anti
diminta memperkenalkan diri” ucap Rina membuyarkan lamunanku.
“Eh, Iya Maaf” jawabku
singkat, lalu kemudian aku memperkenalkan diri ”Namaku ARSA MAUNIRA ANNISATUL
FARIDA, kalian bias panggil aq Nira, aku anak jurusan Bahasa Inggris, aku ikut KDK karna
aku merasa aku perlu” Ucapku memperkenalkan diri dengan singkat.
Kajian islami sudah dimulai, awalnya
aku merasa mengantuk karena mungkin setan setan sedang menggodaku, namu pada
saat sesi Diskusi aku mulai merasa bersemangat karena saat itu semua anggota
diminta aktif. Sepanjang sesi diskusi aku mendapat banyak pelajaran. Hari ini
begitu menyenangkan, meskipun ternyata kelompok KDK dibagi menjadi dua bagian,
kelompok Adam dan Hawa.
“Yaaahhh, gk bisaaa
liattt Kak Rezaa dunk T_T”. ucapku pada Rina.
“Huh nih anak, masiih
ingat aza. Mendingan nyerah deh ukhti yang mau jadi Ma’mum Akhi Reza itu
buaaaannnyyyyaaaakkkkk”. Jawab Rina sedikit lebay.
“Huh, bukannya ngasih
semangat, malah bikin aku patah semangat”. Jawabku sambil manyun.
“Hehehehee. Aku seneng
deh liat kamu hari ini, bedaaaaa bangettt. Udah cantik, pinter, baik, muslimah,
di tambah lagi murah senyummmmmmmmmm, siapaa sih yang gak terpesona sama kamu”.
Celoteh Rina membutku GR
“Palingg bisaa deh
ngegombal, untung kamu cewe coba kalo cowok pasti udah aq lamar”. Jawabku
bercanda.
“Weeiittsss,
Alhamdulillah yahh”. Sahutnya mengikuti nada Syahrini.
***Skip***
Sudah satu tahun aku mengikuti KDK,
awalnya alasanku ikut KDK adalah Lelaki manis berlesung pipi yang wajahnya
begitu menyejukkan namun lama kelamaan aku mulai memantapkan niatku mengikuti
KDK untuk kebaikanku sendiri. Aku mendapatkan banyak pelajaran, sekarangpun aku
mulai menggunakan jilbab bahkan koleksi Jubahku sudah menyaingi Rina. Sungguh
aku menemukan kedamaian dalam hatiku. Namun tak bias aku pungkiri bahwa aku
masih mengingnkan Ikhwan itu, kesolehannya, kebijaksanaanya, kecerdasannya.
MUHAMMAD REZA FARIZKY ADITYA, Lelaki yang mampu melumpuhkan pertahanan hatiku
sedari SMP. Dialah cinta pertamaku dan aku selalu berharap dia menjadi cinta
terkhirku.
“Rin, gk kerasa yh
udah tiga bulan aku ikut KDK”. Ucapku membuka pembicaraan
“Iyah. Aku kirain kamu
cuman anget anget tai ayam, eehh gk taunyaa sekarang udag jadi bidadari cantik
nan muslimah” Jawab Rima sembari merangkulku.
“Huuh, makannyajangn
Su’udhon ukhti” jawakbu sembari mencubit pipi chubby Rina.
“Iyaahh iyaah, Maaf
maaf” ucap Rina sembari mengdip ngdipkan mata sipitnya.
***Flash
Back***
Sungguh tak mudah yang aku bayangkan
untuk beristiqomah menggunakan jilbab. Ada saja hal-hal yang terkadang
membuatku ragu untuk mempertahankan kain yang menempel dikepalaku ini, namun
alangkah beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Rina yang tak pernah letih
memberikan semangat padaku. Teringatku pada satu kejadian yang sempat membuatku
kehilangan kepercayaan diri.
“Hah,
sii ratu gak tau malu sekarang mau jadi ninja yah.” Ucap salah seorang
mahasiswi dikelasku.
“Ukh,
jangan dengerin omongan Ira yah. Kamu cantik kok dengan pakaian taqwamu ini.”
Bisik Rina menenangkanku.
Selama ini aku tak pernah membuat
masalah dengan siapapun, aku selalu berusaha untuk menjaga diri agar tak ada
seorangpun yang membenciku. Tapi justru sebaliknya, hal itulah yang menjadi
salah satu sebab Ira membenciku. Dewa, lelaki yang dia suka justru malah lebih
tertarik padaku dibandingkan dengannya. Hal itu membuatnya geram, meskipun aku
tak pernah menanggapi Dewa namun Ira selalu menganggapku bersalah. Bagi Ira aku
adalah seorang gadis penggoda yang sukanya merebut perhatian para lelaki.
“Lucu
juga sih, passs banget kakyak badut kma Nir.” Ucap Ira lagi, aku tetap bersabar
karena bagiku ini hanyalah ujian tentang ke’istiqomahan ku. “Eh tau gk, cewek
murahan kakyak kamu itu gak pantes pakai ini.” Sambungnya sembari menarik
jilbabku dengan kuat, sontak kerudung yang aku pakai pun terlepas.
“Asthagfirullah.”
Ucapku kaget sembari mengambil jilbabku yang dilemparnya keluar.
“Ira,
kau sudah keterlaluan. Nira gk punya salah sama kamu kenapa kamu menghukumnya
begini.” Ucap Rina yang sedikit marah lantaran kelakuan Ira yang sudah
kelewatan.
“Udah
Rin, kita keluar aja yuk. Aku mau membetulkan jilbabku.” Ucapku singkat sembari
menarik Rina kearah toilet kampus.
Kejadian itu tak berakhir hanya
sebatas itu, Ira selalu menghinaku karena baju yang ku pakai saat ini tak
semodis dulu. Meskipun aku tak pernah menggubris perkataanya itu, namun
terkadang rasa sakit mucul karena kata kata kasarnya. Tapi tak pernah aku
berniat membalasnya karena aku bukanlah seorang pendendam.
“Eeehhh,
cewek murahan. Lepas tuh topeng ninja loe, gak pantas tau cewek penggoda
seperti kamu memakainya.” Ucap Ira penuh kemarahan. “Owhhh, aku paham sekarang.
Mau menjadikan jilbabmu kedok kelakuan bejad mu itu yah. Heh.” Ucapnya sembari
mengelilingiku melihat aku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Permisi
Ra, aku mau lewat.” Jawabku menghindar, sekali lagi aku tak ingin terbujuk
rayuan syetan.
“Heemm,
takuuuttt.” Ucapnya smabil menddekatkan wajahnya kewajahku.
“Permisi
aku mau lewat.” Ucapku sekali lagi.
“Loe
gak bisa ngomong apa Heh.” Teriaknya padaku, kali ini aku hanya tersenyum. “Loe
tu Murahan, gak tau diri, gak pantas makai ini.” Sambungnya, benar saja yang
aku takutkan. Dia menarik jilbabku, namun aku bersyukur karena aku bergerak
cepat untuk menahan tangannya.
“Kamu
boleh bicara apa saja sesukamu, namun kamu tak akan semudah ini mempermalukan
aku.” Jawabku kemudian melepaskan tangannya yang aku tangkap.
Ira yang sedari tadi memakiku hanya
diam karena aku tak membalas kelakuan kasarnya tersebut. Aku hanya tersenyum
manis kemudian berlalu melewati dia dan kawan kawannya satu Genk. Kejadian itu
sudah menjadi hal biasa bagiku di bulan bulan ini. Ira yang dulunya lumayan
dekat denganku justru menjadi orang yang pertama menentangku.
***Flash
On***
Tahun berganti tahun, Bulan berganti
bulan, hari berganti hari, detik berganti detik. Inilah hari terakhirku
menjabat menjadi mahasiswi di UNIVERSITAS HASTA TARUNA BOGOR (UHTB). Hari
ini adalah hariku diwisuda. Semuanya
berjalan sesuai rencana meskipun cinta ini tak pernah terungkap namun aku
bersyukur karna Reza dan Rina lah perantara Allah untukku mendapatkan
hidayah-Nya. Sungguh begitu indah cara-Nya menunjukkan kuasa. Hari ini aku
memakai jilbab pink berpadu dengan kebaya pink merpayet putih pilihan Ayahku
tersayang karena beliau tahu betul bahwa aku adalah pink holic. Beliau
memberikannya sebagai kado wisudaku. Sedangkan Mamah memberikan aku sepasang
high heel berwarna pink bening, sungguh serasi sehingga membuatku merasa lebih
percaya diri.
“Semmppuurrna.” Ucap
teteh uchi adik dari Mamahku.
“Makasih ya teh,
make-up ngak terlalu mencolok.” Sahutku singkat sembari memberikan senyum manis
pada beliau.
“Sip deh, sesuai
dengan theme, miracle of pink.” Jawab teteh sembari menyodorkan kotak kecil
yang juga berwarna pink
“Hemmmm, apa ini teh?”
tanyaku bingung
“Ini buat kamu, kado
dari teteh, semoga az kamu suka yah.” Ucap Teteh sambil membereskan alat
make-up nya.
***Skip***
Lulusan terbaik tahun
ini diminta untuk maju menerima penghargaan, dan beruntunggnya aku dan Rina
juga salah satu di antara mereka sungguh bangga aku bias membuat okedua
orangtuaku bangga padaku, setelah beberapa jam acara inilah saatnya kami maju
sesuai panggilan.
“MAULIDA RINATURRAHIM, FKIP B.Ing”
“MUHAMMAD
REZA FARIZKY ADITYA, FAI”
“ARSA MAUNIRA ANNISATUL FARIDA, FKIP B.Ing”
“IRWAN DWI PERMANA, FKM”
“DHENA AULIA SAPUTRI, FKIP BK”
Setelah acara berakhir, kamipun mulai
bersiap untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Aku berfoto dengan Kedua
orangtuaku, ketiga saudaraku,
sahabat-sahabatku, kami juga
mengabadikan foto foto kami satu angkatan serta anggota KDK. Sungguh acara yang
menyenangkan sekaligus melelahkan.
Hari ini aku telah menjadi seoran
sarjana S1, Rina akan kembali ke Jakarat sedangkan aku harus kembali ke Bandung
sungguh menyedihkan harus berpisah dengan sahabat yang sudah aku anggap
saudaraku sendiri. Bogor akan menjadi tempat yang begitu kurindukan.
“Rinnaaaaa, ana pasti
kangen sama anti” Bisikku pada Rina.
“Iya, Ana sayang sama ukhti.” Jawab
Rina singkat.
“Ana
juga Ukh, ana pasti kangen ketawa cekikikan ukhti, masakan ukhti, teriakan
ukhti dan candaan ukhti.” Ucapku Lirih sambil mendekat kemudian memeluk kawan
seperjuanganku itu.
“Cup
cup cup, jangan nangis cantiknya nanti hilang loh ukh.” Jawab Rina sembari
mengelus-elus pundakku.
“Ihhh,
aku seriuss nih Ukh.” Ucapku sewot
Sedang asyik asiknya kami bercanda,
mengenang tahun tahun saat kami bersama. Datnglah seorang wanita manis berbalut
jilbab yang sedang susuk dikursi roda menghampiri kami.
“Selamat
ya Ukh.” Ucap gadis Manis berbaju ungu tersebut.
“Iya,
makasih ya Ra.” Jawabkami bersamaan.
“Heeeemm,
doakan ana cepat nyusul yah. Bosan juga lama-lama disini apa lagi kalau gak ad
kalian.” Ucap gadis tersebut sambil memegangi tangan kami.
“Duh
ukhtiku IRANA NINGTYAS , kita tetap bisa kontek-kontekan koq.” Jawabku sambil
berjongkok didepannya.
“Ana
pasti kangen kehangatan ini.” Ucap Ira sembari memeluk kami berdua.
***Flas
Back***
Brrrraaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk…
“Bunyi apa itu Rin?” Tanyaku
penasaran sambil mencari cari sumber bunyi.
“Asthagfirullah, ada tabrak lari
Nir.” Ucap Rina mengagetkanku.
“Ayo kita kesana.” Jawabku sambil
berlari menuju arah bunyi.
Tak kusangka, gadis yang tergeletak
berlumuran darah itu adalah Ira. Hatiku sempat berkta tidak untuk menolak
menolongnya, namun Allah masih menyayangiku. Dia titipkan aku rasa iba sehingga
akupun dengan tangkas membawa Ira masuk kemobilku, kebetulan hari ini kami
memakai mobil karena memang ada beberapa benda berat yang mengharuskan kami
memakai mobil.
***Skip***
“Alhamdulillah kamu sudah sadar. “
Sapaku pada Ira yang kini sudah sadar.
“Gwe dimana.” Tanyanya melihat
sekeliling kemudian mencoba berdiri namun “Awwwww, kenapa kakiku tak bisa aku
gerakkan.” Teriaknya diiringi tangis.
“Sabar Ra, Rina lagi manggilin
dokter.” Ucapku menenangkannya.
“Apaaa yang terjadi sama kaki Gwe.”
Tanyanyaa sambil memukul mukul kakinya.
Tak terasa air mata kami pun menetes
sedikit demi sedikit. Sungguh indah saat-saat yang aku lalui bersamanya, dia
mengajarkanku banyak hal, memberikanku sebuah kenanga yang takkan pernah aku
lupa. Hari ini dia Nampak berbeda, mungkin karena wajah polosnya dihiasi
beberapa warna pastel karena make-up diwajahnya, serta kebaya Biru muda yang
berpadu dengan jilbab biru muda. Sungguh luar biasa, wajar saja banyak ikhwan
yang mengejar ngejar dia, namun dia menolak hanya karena dia takut Allah
cemburu.
***Flash Back***
“Ukh, anti tau kan kao akh Irwan itu naksir sama
anti.” Tanyaku menyelidik.
“Iya, tau donk tteruuuss.” Jawabnya santai
“Heh” aku mengerutkan dahi “Koq terus sih.” Tanyaku
bingung
“Iya, maksud ana kalo ana tau knapa ukhti saying.”
Ucapnya sembari melakukan kebiasaanya mencubit pipi chubbyku.
“Dia pernah nembak ukhti, right?” tanyaku lagi.
“Iya, via telepon. Terus?” jawabnya singkat.
“Truusss, ceritaaaa donk ukh.” Ucpku sembari
menyenggol nyenggol lengannya.
“Ya deh , iya.” Ucapnya sembari membenarkan
sandarannya kemudian melanjutkan ceritanya. “Kemarin Akh. Irwan nelepon, dia
bilang cinta sama ana, tapi ana tolak.” Jwabnya sembari membalik halaman
bukunya.
“Hew, koq ditola sih bukannya akh, Irwan itu idola
anggota KDK yah, sama th kyk Akh. Reza dan Akh. Ilham.” Cerocosku
“Ana takut Ukh, ana takut Allah cemburu sama ana
kalau ana jadian sama Akh.Irwan” jawabnya membuatku bingung.
“Koq gitu, bukannya Ukhti juga suka yah” Tanyaku
tambah bingung.
“Iya sih, tapikan kalo
orang pacaran kebanyakan klo pacaran pasti deh romantic romantisan, padahalkan
bukan Mahromnya, ntar Allah cemburu. Terus yah aku takut kalo pas lagi
keasyikan pacaran aku lupa memuji-Nya nanti yang ada ana mala muji ak. Irwan
mulu. Lagi pula alau Akh. Irwan jodoh ana, dia tak akan lari koq Hehehehe
”jawabnya sembari melihatkan gingsulnya.
“Owh gitu yah Ukh, Sip sip siiippp lah. Ana kagum
sama anti.” Sahutku sambil menepuk nepuk bahunya.
Semenjak
saat itu aku berusaha memendam cintaku pada Akh. Reza, aku hanya mendoakannya
dikala aku sholat berharap Allah selalu memberikan jalan terbaik untuk kami.
***Flash On***
“Assalamualaikum Ukhtiku sayaannggg.” Ucap
seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam Ukhtii, ana kangenn antii”
jawabku setelah menyadari bahwa seseorang yang meneleponku adalah sahabatku.
“Gimana kabar anti, ana juga kangen sama ukhti?”
Tanya Rina
“Alhamdulillah Fine Ukh, anti?” tanyaku balik
“So do I ukh, afwah yah kalau ana ganggu ukhti.”
Ucapnya singkat.
“Na’am, gk ppa ukh kebetulan lagi santai nih. Ada
yang bisa ana bantu ukh?” tanyaku penasaran.
“Emmmmmm, ana mau
undang anti ke acara pernikahan ana dengan Akh. Irwan. Hehehehe.” Ucap Rina
yang lumayan mengagetkanku.
“Alhamdulillah ukhti
udah nemu imamnya, ana kapann yh.” Ucapku sedih lalu melanjutkan pembicaraanku.
“Kapan Ukh?” tsanyaku singkat.
“InsyaAllah minggu
depan ukh, tenangg ukh sabar aja InsyaAllah anti nyusul ana secepatnya.
Amieenn” jawab Rina sembari memberikan do’a.
“InsyaAllah Ukh, ana
usahakan ya.” Jawabku singkat.
“awasnya, kalo anti gk
dating ana gk jadi nikah. Hahahhahaha.” Canda Rins.
“Hahahaa, anti aneh
aneh saja ukh.” Jawabku singkat.
“Ya udah, syukron yah
udah mau nemenin ngobrol.” Ucap Rina
“Sama-sama ukh,
syukron juga undangannya.” Balasku sambil sedikit tertawa.
“Assalamualaikum Ukh.”
Ucap rina mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.”
Jawabku sembari menutup telepon.
***Skip***
Tamu yang berdatangan silih berganti,
hari itu sunggu merupakan hari special sahabatku karena cinta yang dulunya dia
simpan rapat kini telah menjadi nyata, taktau entah kapan aku duduk disana,
menyusul Rina menyempurnakan ibadahku. Mungkinkah Reza yang nantinya akan
berada disampingku. Ya Rabb sungguh aku lemah pada cinta ini, jika bukan dia
jodohku jagalah aku dari rasa sakit dan kecewa.
“Niraaaa.” Panggil
Rina melambai kearahku.
Akupun mendatanginya, betapa kagetnya
aku melihat seseorang yang berada disebelah Irwan, ya dialah Imam yang aku
harapkan.
“Foto dulu donk, siapa
tau ketularan” ucap Rina menarikku agar berdiri disampingnya.
“Iyah, amien.” Jawabku
sambil sesekali melirik ke arah Reza.
“Siaap, 1..2..3..”
Ucap sang fotograper.
Jepreeetttttttttzzzzz..
***Skip***
“Assalamualaikum.”
sapa seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam
Ukh.” Jawabku pada orang disebserang sana.
“Ukh, InsyaAllah ana
akan pindah kebandung Bulan depan.” Ucapan Rina membuatku senang.
“Alhamdulillah, akhirnya
kebandung juga yh ukh.” Sahutku semangat.
“Iya nih, Mas Irwan
pindah tugas ke RS yang letaknya di Bandung, katnaya si kekurangan dokter.”
Jelas Rina.
“Owh begitu, udah
dapat rumah disini belum Ukh, biar ana bantu cari.” Tanya ku menawarkan
bantuan.
“Syukron Ukh, disana
udah ada rumah dinasnya Mas Irwan.” Jawab Rina.
“Alhamdulillah lah
kalau begitu, ana tunggu ukh.” Jawabku singkat.
“Iya Ukh, ya sudah ana
mau menyiapkan makan siang dulu.”
“Iya dehh Umi, hahaha
:D Assalamualaikum.” Ucapku mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam
sayangg.” Jawab Rina sembari mentutup telepon
***Skip***
Hari ini keluarga Rina pindah ke
bandung, aku yang sudah d’kirimi sms alamatnyapun langsung menuju rumahnya.
Alhamdulillah jarak yang akan aku tempuh tidak begitu jauh sehingga aku sudah
sampai disana
dalam waktu beberapa menit. Aku begitu merindukan sahabatku tersebut sehingga
membuatku berangkat lebih awal. Setelah sampai dirumah tersebut, akupun
menunggu Rina. Tak beberapa lama mereka dating, tanpa piker panjang akupun langsung
memeluk sahabatku tersebut.
“Perutnya udah besar
nihh, gimana sehat kan Rin?” Tanyaku sambil mengelus perutnya yang sudah
membesar karena sedang hamil tua.
“Alhamdulillah sehat
Nir, cuman terkadang gak nafsu makan Alhamdulillah ada dokter pribadi jadi ada
yang ngobatin.” Ucap Rina sembari melirik suaminya yang sedari tadi kami cueki.
“Masuk dulu yuk” Ajak
kak Irwan pada kami.
“Yuk marii.” Jawabku
sembari melingkarkan tangan di pinggang sahabatku itu.
“Maassiihh aja tuh
genit, masa ana dirangkul.” Canda Rina padaku.
“Ahhh, bilang aja anti
juga suka.” Sahutku sembari mencubit dagunya yang panjang.
***Skip***
Sudah hampir sebulan Rina menetap di
Bandung, ini kunjungan aku yang kesekian kalinya. Tak seperti biasanya,
pembicaraan kami kali ini terasa lebih serius.
“Ukh, Mas Irwan punya seorang
sahabat yang sedang mencari seorang istri solehah, yang mampu mengingatkannya
dikala lalai, menegurnya dikala salah. Dan ana ras, Ukhti-lah yang cocok. Apa
Ukhti bersedia?” Tanya Rina membuka pembicaraan.
“Tapii Ukh.” Suaraku terpotong “Ana
tak sebaik yang ukhti fikirkan.” Jawabku merendah.
“Ahh, Ukhti terlalu merendah. Anti
coba saja dulu ta’aruf kita tak pernah tau jika belum mencoba.” Ucap Rina
meyakinkanku.
Sesaat
aku berfikir, namun kemudian aku mengangguk, tanda aku menyetujui sahabatku
ini. Memang dari dulu Rina selalu berusaha memberikan segala yang terbaik untuk
orang orang di sekitarnya.
“Alhamdulillah.” Ucap Rina
bersyukur “Minggu depan apa Ukhti bersedia menemuinya?” Tanya Rina kemudian
mempersilahkan aku minum.
“InsyaAllah.” Jawabku singkat
kemudian menghirup teh yang tadi Rina suguhkan.
***Skip***
“Gimana untuk ta’arufnya, jadi nggak Mas?” Tanya seseorang
diseberang tirai yang sepertinya sudah tidak sabar.
Aku hanya tersenyum. Saat Rina melihatku dengan senyuman.
Sepertinya dia tau bahwa saat ini aku sedang gugup.
“Ya pasti jadi, Akh! Nih akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab
Mas
Irwan.
Spontan rasanya Ikhwan
tersebut langsung terdiam. Aku juga diam
saja, aku malu. Aku malu karena sejak dari tadi aku sudah berada disini.
Dan mendengar Ikhwan itu.
“Assalamualaikum” Salam Mas
Irwan.
“Walaikumsalam” Serempak terdengar jawaban.
“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” Tanya
Rina, pada suaminya.
“Iya, bisa langsung dimulai!” Ucap Mas Irwan. “Silakan Akhi, untuk
menanyakan
sesuatu hal yang ingin antum tanyakan.” Lanjut Mas
Irwan, mempersilahkan.
Tak
lama kemudian Ikhwan tersebut membuka pembicaraan. Suaranya amat familiar
ditelingaku.
“Assalamualaikum Ukhti.” Sapa
lelaki itu, entah siapakah dia.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku
singkat.
“kalau boleh ana tau, siapakah
gerangan ukhti yang berada di tirai sebelah.” Tanyanya singkat.
“ARSA MAUNIRA ANNISATUL
FARIDA,
antum.?” Aku balik bertanya.
“MUHAMMAD REZA FARIZKY
ADITYA.”
Jawabnya singkat yang kemudian membuat ruangn menjadi hening.
Tak pernah ku sangka bahwa Ikhwan
tersebut adalah Reza. Allah telah mengabulkan doa di setiap sujud sujud
terakhir sholatku.
“Ana
sudah lama mencintai ukhti, namun baru saat ini ana berani mengutarakkannya.
Ana sudah berjanji bahwa ana akan mencintai Ukhti seperti Ukhti mencintai ana.”
Ucap Reza memecahkan keheningan.
“Cara
ana mencintai Antum?” Tanyaku kebingungan.
“Iya,
ana menemukan sebuah catatan singkat anti. Afwan jikalau ana lancang karena
membacannya tanpa seizin anti.” Jawab Reza menjelaskan.
Penjelasannya membuatku teringat pada
kecerobohanku pada saat kami masih tergabung dalam suatu organisasi, Kajian
Dakwah Kampus.
***Flash Back***
“Assalamualaikum, ini
benar ukhti Maunira?” Tanya seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam,
Iya ini Nira. Afwan, akhi siapa yh, ada perlu ap?” tanyaku penasaran.
“Ana Reza Ukh, Afawan
kalau menggangu Ukhti.” Jawab seseorang diseberang sana yang ternyata adalah
Reza.
Hah, Akhi Reza ngapain nelepon nih
jangan janggaaan jangaann dia…
“Ukh, anti masih
disana kan.” Ucap Reza mengagetkanku.
“Eh akhi. Afwan kalau
boleh tau ada apa akhi, ada yang bisa ana bantu?” Tnyaku sembari menahan degup
jantungku yang semakin keras.
“Iya Ukh, Ana mau
pinjam buku Administrasi KDK soalnya ana mau bikin laporannya Ukh, Bisa?”
Jelasnya singkat.
“Na’am Akhi, kebetulan ana baru aja menjumlah semua
pengeluaran KDK” jawabku singkat. Aku terlalu takut, aku takut tak bisa menahan
rasa ini.
“Besok tolong bawa ya Ukh.” Ucap Reza singkat.
“Na’am” sahutku singkat.
“Ya sudah, syukron Ukh, Assalamualaikum” ucap Reza
mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku sembari menutup
telepon.
Aku menulis isi hatiku di secarik
kertas. Aku sengaja menulis di secarik kertas agar aku bisa menyimpannya secara
terpisah. Aku lebih senang mengungkapkan segala yang aku rasa melalu sebuah
tulisan daripada menceritakannya kepada orang lain karna memang aku pribadi
yang lumayan tertutup. Akupun mulai menulis isi hatiku.
Beginilah Caraku Mencintaimu
Aku mencintaimu dengan menundukkan wajahku padamu,
bukan karena aq ingin berpaling darimu namun karena aku ingin menjagamu dari
panah-panah iblis.
Aku mencintaimu dengan tidak melemah lembutkan
suaraku bukan karena aku ingin menyakitimu namun karena aku ingin menjaga
hatimu dari bisik setan yang menipu.
Ku mencintaimu dengan menjauh darimu, bukan karena
aku membencimu namun karena kuingin menjagamu dari khalawat yang mnjebak.
Ku mencintaimu degan menjaga dirimu dan diriku.
Menjaga kesucianmu dan kesucianku.
Menjaga Kehormatanmu dan kehormatankuku.
Menjaga Kebeningan hatimu dan hatiku.
Cinta..
Tak mengapa saat ini kita jauh, karna kelak Allah yang akan
menyatukan kita dalam ikatan sucinya. karena itu jauh lebih berarti, jauh lebih
abdi, karena ku yakin janji Allah adalah pasti.
Wanita yang baik untuk lelaki yang baik
Seperti inilah caraku mencintaimu, dengan menjaga kesucian
diri, jiwa dan hati hanya untuk ku persembahkan padamu kelak.
Ya RABB padaMU ku titipkan cintaku padanya
Dia yang kucinta, Muhammad Reza Farizky Aditya..
Amien..
“Ukh, udah jam 9 nih,
tidur yuk” Ajak Rina sedikit berteriak.
Aku yang sedari tadi menulispun kaget,
akhirnya aku memberskan semua buku yang berserakan termasuk buku administrasi
dan catatanku barusan.
“Sipppp Umi.” Ucapku
pada Rina, aku terbiasa memanggilnya umi saat dia bertingkah sepert ibuku.
***Skip***
Hari
ini aku harus menemui Reza, sang ketua KDK. Maklum lah aku bendaharanya jadi
aku harus memberikan laporan keuangan sebulan sekali. Kebetulan semester sudah
muali berakhir sehingga Reza harus membuat laporan agar adanya keterbukaan
tentang dana dan kegiatan yang telah terselenggara.
“Assalamualaikum.” Ucapku sembari mengetok pintu
ruang KDK.
“Wa’alaikumussalam.”Sahut
beberapa anggota KDK termasuk Rina. Rupanya mereka sedang mempertangung
jawabkan tugas mereka bulan ini.
“Eh ukhti Nira, bolen
ana pinjam bukunya.” Tanpa piker panjang akupun langsung memberikannya.
“Ana ke kelas duluah
yah soalnya ada kuliah.” Ucapku pada seisi ruangan.
“Iya, silahkan Nir.”
Jawab Rina sembari melemparkan senyum manisnya.
“Assalamualaikum.”
Ucapku sembari berjalan keluar ruangan menuju ruang kelas.
***Flash On***
“Anti masih ingat kan
dengan buku administrasi, ana menemukan kertas itu disana. Afwan kalau ana
lancang, awalnya ana fikir itu adalah lembar catatan administrasi yang
terlepas, ternyata itu adalah susunan kata yang begitu indah, yang mampu
menggetarkan hati ana.” Jelas Reza panjang lebar.
“Astagfirullah,
rupanya kertas itu terselip disana. Afwa, ana malu atas kecerobohan ana.”
Jawabku sambil menunduk.
“Gak ppa Ukh, karena
kertas itu ana bisa menjadi focus kembali dengan kuliah ana, dengan tanggung
jawab ana, karena ana yakin anti akan sabar menunggu
ana.” Ucap Reza membingungkanku.
”Maksudnya?” Tanyaku
bingung
“Afwan semenjak anti
memutuskan ikut KDK, ana mulai merasa kagum kepada anti.Anti begitu bersemangat
seolah olah siapapun yang berada di dekat anti juga akan merasakan energy
positif yang anti sebarkan. Semenjak itu pula ana mulai tidak focus dengan sema
yang ana fikirkan karena ana takut anti bukanlah tulang rusuk ana.” Jelas Reza.
“Syukron telah
mengagumi ana. Semoga akhi tidak menyesal. Amien.” Jawabku ringkas
“Apakah ukhti mau
menjadi ibu dari anak anak ana, menjadi ma’mum ana.” Tanya Reza penuh percaya
diri.
Suasana menjadi
hening, aku tak percaya hal ini bisa terjadi aku tak menyangka ternyata lelaki
yang selama ini aku kagumi juga mengagumiku tanpa sepengtahuanku.
“Bagaimana Uk.” Tanya
Reza Mengagetkanku
“Bismillahirrahmanirrahim,
ya ana mau menjadi ma’mum akhi.
“Apakah ukhti serius?” Tanya Reza untuk meyakinkan
hatinya.
“Iya, Ana serius Akh, ana bersedia menjadi ibu dari
anak anak antum.” Jawabku dibarengi rasa syukur di dalam hati.
***Skip***
Tak pernah aku bayangkan hal ini terjadi,
lelaki yang aku kagumi kini berada disampingku. Reza telah menjadi imamku,
sungguh besar kuasa-Nya yang membuat segalanya menjadi indah pada waktunya.
Dalam diam aku mencintainya, mencintainya dengan segenap rasa. Cinta yang Allah
titipkan sungguh membuatku semakin dekat dengan-Nya.
THE END
mantap saiii....hehe
BalasHapusq cba blajar jua maolahnya ..heheee.. tentang hdup q..hd
Manaaaa cerita tntng OXTEAM sayaangggg???
BalasHapus