Senin, 23 April 2012


BEGINILAH CARAKU
MENCINTAIMU
Created By
TieNa
Raudlatul Agustina Sari




        Udara pagi ini cerah, secerah wajah Nira, Mahasiswi manis yang merasa ketiban durian runtuh lantaran baru saja bertabrakan dengan seorang Mahasiswa bermata minus namun berkelakuan plus plus. Baru kali ini Nira jatuh cinta, semenjak SMP. Dia selalu saja cuek saat ada sorang pria yang mendekatinya, namun tidak untuk yang satu ini, justru Nira yang berantusias mendekatinya. Pagi itu dia mulai merusuh kelas karena teriakan suara cempreng nan imut yang keluar dari mulutnya.
“Rinaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!!” Teriakku pada sahabatku sedari eSeMPe.
“Ihhh, Niraaaaa cwe cantik koq teriak teriak sih kyak d’hutan az” sahut Karina dengan nada lembutnya.
“Hehehehee. Kamu tau gk, aku mau gabung KDK (Kajian Dakwah Kampus) ^_^” Ucapku sambil senyum-senyum genit.
“Hah, yang bener Nir?. Alhamdulillah deh, aku dukuuuunnnggg bangett” jawab sahabatku sembari mencubit hidung mancungku.
“Seneng sih senengg, gk usah nyubit idung aku jugaaa kallii” ceplos ku sewot.
“Maaf deh sayanngggg, aku gemes tauuu liat hidungg kamu”. Jawab Rina sembari memegang kedua pipiku.
“Yuk masuk, Mrs. Serly udah masuk ruang atas nih kata Dewi” Ucapku sembari memperlihatkan SMS Dewi.
***Flash Back***
          Suasana kelas begitu sepi membuatku bosan untuk tetap berada disana, tanpa piker panjang akupun beranjak pergi ke kantin yang letaknya tak jauh dari ruang kuliahku. Hari ini aku hanya sendiri karena Rina sedang di sibukkan oleh kegiatannya di KDK (kajian Dakwah Kampus). Yupzt, para jilbaber berkumpul disana termasuk Rina sahabatku. Rina adalah seorang gadis manis yang sungguh taat beribadah, Aku mengenalnya semenjak SMP, saat itu aku sedang sibuk membongkar isi tasku mencari cari dompet untuk membayar makanan yang telah aku pesan tadi namun aku tidak juga menemukannya, Rina yang sedari tadi melihatku mulai mendekatiku kemudian menawarkan bantuannya.
“Maaf, ada yang bisa aku bantu.” Tanyanya sedikit mengagetkaku.
“Emmm, iya nih kayaknya dompet aku ketinggalan dirumah deh.” Jawabku masih mencari cari dompetku berharap aku membawanya.
“Owh, pakai ini aja dulu Ukh.” Sambungnya sembari menyodorkan uang Rp.20.000.
“Ehh, kalo aku make in, ntar gimana balikinnya.” Tanyaku bingung
“Kan kita satu sekolah Ukh, bayarin aja dulu kebetulan aku bawa uang lebih.” Sahutnya meyakinkanku.
“Emm, iya deh aku pakai dulu yah Sist.” Jawabku sembari membalas senyum manisnya.
“Iyaaa.” Ucapnya sambil menganggukan kepalanya yang tertutup oleh selembar kain.
Pertemuan singkat itu telah menjadiakan kami menjadi seorang sahabat. Kami sungguh bertolak belakang dia dengan kerudung lebar nan panjang yang selalu menutupi sebagian dari tubuhnya, berbeda dengan aku yang selalu memakai baju dengan kain seadanya. Seperti halnya kata tukul, “Don’t judge book from the cover”. Perilaku ku tak seburuk caraku berpakaian, menurut teman temanku aku adalah seorang gadis manis bermata indah dan memiliki hidung mancung yang memiliki hati bagai peri (duuuuiillleeeeee.. Lebee) hanya saja aku belum memakai hijab seperti halnya Rina.
***Flash On***
          Mata kuliah hari ini telah berakhir, seperti biasa Rina selalu mengajakku untuk mampir kemushola kampus untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Gadis manis pecinta warna biru itu tak pernah bosan memaksaku untuk ikut dengannya. Namun tak jarang aku juga menolak keinginannya itu dengan seribu satu cara yang tak kalah maut, meskipun begitu Rina selalu saja berhasil merayuku.
“Pulaaanggggg yuk, aku capee nih lagian kamu kan lagi puasa yah pastii cuappeee more than I’m, Right?” Tanya ku sembari merangkul pundak sahabatku.
“Gak koq Nir, aku gk capek koq” jawabnya lembut diselingi senyumnya yang manis “qt sholat dlu yuk” ajaknya sembari menarik tanganku.
“Uggggghh. Aku di rumah az yah, cappeeee” alasanku sambil memegang pundakku yang terasa sedikit sakit
“Sekarang ajaa yah, biar entar kalo udah nyampe kos qt bias langsung tidur” rayunya lembut.
“Iyaa deh, iyaaa” sahutku malas
“Senyuumm donk, masaaa cemberut gituu” celotehnya sembari menarik kedua sudut bibirku.
“Nihhh senyuummm^_^” jawabku sambil memperlihatkan gigi.
“Hihihihhih, lucuuu”  sahutnya yang kemudian menarikku keaarah pintu mushola.
***Skip***
“Niraaaa, aku boleh nanyaa gk sih?” Tanya Rina sembari menutup buku yang sedari tadi dia baca.
“Bolleeehh boleeeeh, tanyaa apaa Sista”. Jawabku dengan senyum simpul.
“Eeeemmmm, janjii yah jangan marah”. Sahutnya sedikit gugup.
“Whaattt, sejak kapaann sih aku bisa marah sama kamu”. Jawabku sembari melemparkan tubuhku ke kasur tempat Rina berada.
“Iya yah, hihihiii. Kamu kenapaa sih koq kepingin ikut rohis”. Tanyanya penasaran.
“Owh itu” aku menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-kataku “kemarin aku liat salah satu senior KDK, cuakkeeppnyaa subhanallah dah”. Jawabku dengan logat betawiku sembari menepuk pundak Rina.
“Wew, aku kiraaaa kamu nabrak pintu hidayah dimanaaa gitu eehh gk taunya kepincut senior KDK toh”. Ucap Rina sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
“Hahahhaaaa. Doa az sayaangg siapa tau ini cara Allah ngabulin doa kamu selama ini” sahutku sembari mengacak jilbab Rina.
“Uuhhh, kok ngacak ngacak rambut aku sihh.” Celotehnya sembari memanyunkan mulutnya.
***Skip***
          Hari ini ba’da sholat Jum’at KDK di mulai, seperti biasa semua anggota berkumpul di dalam mushola kampus yang begitu sejuk karna cuaca hari itu sungguh cerah. Ini hari pertama Aku memakai jilbab, meskipun terasa anaeh namun aku tetap memakainya, aku malu jika harus memakai baju baju yang kainnya pas pasan (kata kata temanku). Hari ini aku meminjam baju Rina berwana Pink bermotif bunga dengan jilbab senada, Rina memakaikanku jilbab dengan sabarnya meskipun aku tak bias diam saat dia memakaikannya.
“Kamuu cantikk bangett Nir”. Ucap Rina kagum.
“Masa siieehh”. sahutku malu malu kucing.
“Iyaaaaa, aku aja sampai pangling”. Celotehnya sembari menyematkan Bros rajut berbentuk bunga.
“Makasiihh yaaa udah bantu aku memakai semua ini” ucapku pada Rina
“Sieep Okeh, semuaa sudah beres yuk capcussss” Celotehnya padaku
***Skip***
          Seisi mushola melirik padaku, tak terkecuali Kak Reza. Lelaki manis yang menjadi alasanku untuk bergabung dengn kelompok ini. Dia begitu menarik dan mempesona meskipun dia tidak bergaya seperti layaknya lelaki jaman sekarang. Sungguh menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk menaklukan hatinya.
“Eheem, Ukhti anti diminta memperkenalkan diri” ucap Rina membuyarkan lamunanku.
“Eh, Iya Maaf” jawabku singkat, lalu kemudian aku memperkenalkan diri ”Namaku ARSA MAUNIRA ANNISATUL FARIDA, kalian bias panggil aq Nira, aku anak jurusan Bahasa Inggris, aku ikut KDK karna aku merasa aku perlu” Ucapku memperkenalkan diri dengan singkat.
          Kajian islami sudah dimulai, awalnya aku merasa mengantuk karena mungkin setan setan sedang menggodaku, namu pada saat sesi Diskusi aku mulai merasa bersemangat karena saat itu semua anggota diminta aktif. Sepanjang sesi diskusi aku mendapat banyak pelajaran. Hari ini begitu menyenangkan, meskipun ternyata kelompok KDK dibagi menjadi dua bagian, kelompok Adam dan Hawa.
“Yaaahhh, gk bisaaa liattt Kak Rezaa dunk T_T”. ucapku pada Rina.
“Huh nih anak, masiih ingat aza. Mendingan nyerah deh ukhti yang mau jadi Ma’mum Akhi Reza itu buaaaannnyyyyaaaakkkkk”. Jawab Rina sedikit lebay.
“Huh, bukannya ngasih semangat, malah bikin aku patah semangat”. Jawabku sambil manyun.
“Hehehehee. Aku seneng deh liat kamu hari ini, bedaaaaa bangettt. Udah cantik, pinter, baik, muslimah, di tambah lagi murah senyummmmmmmmmm, siapaa sih yang gak terpesona sama kamu”. Celoteh Rina membutku GR
“Palingg bisaa deh ngegombal, untung kamu cewe coba kalo cowok pasti udah aq lamar”. Jawabku bercanda.
“Weeiittsss, Alhamdulillah yahh”. Sahutnya mengikuti nada Syahrini.
***Skip***
          Sudah satu tahun aku mengikuti KDK, awalnya alasanku ikut KDK adalah Lelaki manis berlesung pipi yang wajahnya begitu menyejukkan namun lama kelamaan aku mulai memantapkan niatku mengikuti KDK untuk kebaikanku sendiri. Aku mendapatkan banyak pelajaran, sekarangpun aku mulai menggunakan jilbab bahkan koleksi Jubahku sudah menyaingi Rina. Sungguh aku menemukan kedamaian dalam hatiku. Namun tak bias aku pungkiri bahwa aku masih mengingnkan Ikhwan itu, kesolehannya, kebijaksanaanya, kecerdasannya. MUHAMMAD REZA FARIZKY ADITYA, Lelaki yang mampu melumpuhkan pertahanan hatiku sedari SMP. Dialah cinta pertamaku dan aku selalu berharap dia menjadi cinta terkhirku.
“Rin, gk kerasa yh udah tiga bulan aku ikut KDK”. Ucapku membuka pembicaraan
“Iyah. Aku kirain kamu cuman anget anget tai ayam, eehh gk taunyaa sekarang udag jadi bidadari cantik nan muslimah” Jawab Rima sembari merangkulku.
“Huuh, makannyajangn Su’udhon ukhti” jawakbu sembari mencubit pipi chubby Rina.
“Iyaahh iyaah, Maaf maaf” ucap Rina sembari mengdip ngdipkan mata sipitnya.
***Flash Back***
          Sungguh tak mudah yang aku bayangkan untuk beristiqomah menggunakan jilbab. Ada saja hal-hal yang terkadang membuatku ragu untuk mempertahankan kain yang menempel dikepalaku ini, namun alangkah beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Rina yang tak pernah letih memberikan semangat padaku. Teringatku pada satu kejadian yang sempat membuatku kehilangan kepercayaan diri.
“Hah, sii ratu gak tau malu sekarang mau jadi ninja yah.” Ucap salah seorang mahasiswi dikelasku.
“Ukh, jangan dengerin omongan Ira yah. Kamu cantik kok dengan pakaian taqwamu ini.” Bisik Rina menenangkanku.
          Selama ini aku tak pernah membuat masalah dengan siapapun, aku selalu berusaha untuk menjaga diri agar tak ada seorangpun yang membenciku. Tapi justru sebaliknya, hal itulah yang menjadi salah satu sebab Ira membenciku. Dewa, lelaki yang dia suka justru malah lebih tertarik padaku dibandingkan dengannya. Hal itu membuatnya geram, meskipun aku tak pernah menanggapi Dewa namun Ira selalu menganggapku bersalah. Bagi Ira aku adalah seorang gadis penggoda yang sukanya merebut perhatian para lelaki.
“Lucu juga sih, passs banget kakyak badut kma Nir.” Ucap Ira lagi, aku tetap bersabar karena bagiku ini hanyalah ujian tentang ke’istiqomahan ku. “Eh tau gk, cewek murahan kakyak kamu itu gak pantes pakai ini.” Sambungnya sembari menarik jilbabku dengan kuat, sontak kerudung yang aku pakai pun terlepas.
“Asthagfirullah.” Ucapku kaget sembari mengambil jilbabku yang dilemparnya keluar.
“Ira, kau sudah keterlaluan. Nira gk punya salah sama kamu kenapa kamu menghukumnya begini.” Ucap Rina yang sedikit marah lantaran kelakuan Ira yang sudah kelewatan.
“Udah Rin, kita keluar aja yuk. Aku mau membetulkan jilbabku.” Ucapku singkat sembari menarik Rina kearah toilet kampus.
          Kejadian itu tak berakhir hanya sebatas itu, Ira selalu menghinaku karena baju yang ku pakai saat ini tak semodis dulu. Meskipun aku tak pernah menggubris perkataanya itu, namun terkadang rasa sakit mucul karena kata kata kasarnya. Tapi tak pernah aku berniat membalasnya karena aku bukanlah seorang pendendam.
“Eeehhh, cewek murahan. Lepas tuh topeng ninja loe, gak pantas tau cewek penggoda seperti kamu memakainya.” Ucap Ira penuh kemarahan. “Owhhh, aku paham sekarang. Mau menjadikan jilbabmu kedok kelakuan bejad mu itu yah. Heh.” Ucapnya sembari mengelilingiku melihat aku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Permisi Ra, aku mau lewat.” Jawabku menghindar, sekali lagi aku tak ingin terbujuk rayuan syetan.
“Heemm, takuuuttt.” Ucapnya smabil menddekatkan wajahnya kewajahku.
“Permisi aku mau lewat.” Ucapku sekali lagi.
“Loe gak bisa ngomong apa Heh.” Teriaknya padaku, kali ini aku hanya tersenyum. “Loe tu Murahan, gak tau diri, gak pantas makai ini.” Sambungnya, benar saja yang aku takutkan. Dia menarik jilbabku, namun aku bersyukur karena aku bergerak cepat untuk menahan tangannya.
“Kamu boleh bicara apa saja sesukamu, namun kamu tak akan semudah ini mempermalukan aku.” Jawabku kemudian melepaskan tangannya yang aku tangkap.
          Ira yang sedari tadi memakiku hanya diam karena aku tak membalas kelakuan kasarnya tersebut. Aku hanya tersenyum manis kemudian berlalu melewati dia dan kawan kawannya satu Genk. Kejadian itu sudah menjadi hal biasa bagiku di bulan bulan ini. Ira yang dulunya lumayan dekat denganku justru menjadi orang yang pertama menentangku.
***Flash On***
          Tahun berganti tahun, Bulan berganti bulan, hari berganti hari, detik berganti detik. Inilah hari terakhirku menjabat menjadi mahasiswi di UNIVERSITAS HASTA TARUNA BOGOR (UHTB). Hari ini  adalah hariku diwisuda. Semuanya berjalan sesuai rencana meskipun cinta ini tak pernah terungkap namun aku bersyukur karna Reza dan Rina lah perantara Allah untukku mendapatkan hidayah-Nya. Sungguh begitu indah cara-Nya menunjukkan kuasa. Hari ini aku memakai jilbab pink berpadu dengan kebaya pink merpayet putih pilihan Ayahku tersayang karena beliau tahu betul bahwa aku adalah pink holic. Beliau memberikannya sebagai kado wisudaku. Sedangkan Mamah memberikan aku sepasang high heel berwarna pink bening, sungguh serasi sehingga membuatku merasa lebih percaya diri.
“Semmppuurrna.” Ucap teteh uchi adik dari Mamahku.
“Makasih ya teh, make-up ngak terlalu mencolok.” Sahutku singkat sembari memberikan senyum manis pada beliau.
“Sip deh, sesuai dengan theme, miracle of pink.” Jawab teteh sembari menyodorkan kotak kecil yang juga berwarna pink
“Hemmmm, apa ini teh?” tanyaku bingung
“Ini buat kamu, kado dari teteh, semoga az kamu suka yah.” Ucap Teteh sambil membereskan alat make-up nya.
***Skip***
Lulusan terbaik tahun ini diminta untuk maju menerima penghargaan, dan beruntunggnya aku dan Rina juga salah satu di antara mereka sungguh bangga aku bias membuat okedua orangtuaku bangga padaku, setelah beberapa jam acara inilah saatnya kami maju sesuai panggilan.
“MAULIDA RINATURRAHIM, FKIP B.Ing”
 “MUHAMMAD REZA FARIZKY ADITYA, FAI”
“ARSA MAUNIRA ANNISATUL FARIDA, FKIP B.Ing”
“IRWAN DWI PERMANA, FKM”
“DHENA AULIA SAPUTRI, FKIP BK”
          Setelah acara berakhir, kamipun mulai bersiap untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Aku berfoto dengan Kedua orangtuaku,  ketiga saudaraku, sahabat-sahabatku,  kami juga mengabadikan foto foto kami satu angkatan serta anggota KDK. Sungguh acara yang menyenangkan sekaligus melelahkan.
          Hari ini aku telah menjadi seoran sarjana S1, Rina akan kembali ke Jakarat sedangkan aku harus kembali ke Bandung sungguh menyedihkan harus berpisah dengan sahabat yang sudah aku anggap saudaraku sendiri. Bogor akan menjadi tempat yang begitu kurindukan.
“Rinnaaaaa, ana pasti kangen sama anti” Bisikku pada Rina.
“Iya, Ana sayang sama ukhti.” Jawab Rina singkat.
“Ana juga Ukh, ana pasti kangen ketawa cekikikan ukhti, masakan ukhti, teriakan ukhti dan candaan ukhti.” Ucapku Lirih sambil mendekat kemudian memeluk kawan seperjuanganku itu.
“Cup cup cup, jangan nangis cantiknya nanti hilang loh ukh.” Jawab Rina sembari mengelus-elus pundakku.
“Ihhh, aku seriuss nih Ukh.” Ucapku sewot
          Sedang asyik asiknya kami bercanda, mengenang tahun tahun saat kami bersama. Datnglah seorang wanita manis berbalut jilbab yang sedang susuk dikursi roda menghampiri kami.
“Selamat ya Ukh.” Ucap gadis Manis berbaju ungu tersebut.
“Iya, makasih ya Ra.” Jawabkami bersamaan.
“Heeeemm, doakan ana cepat nyusul yah. Bosan juga lama-lama disini apa lagi kalau gak ad kalian.” Ucap gadis tersebut sambil memegangi tangan kami.
“Duh ukhtiku IRANA NINGTYAS , kita tetap bisa kontek-kontekan koq.” Jawabku sambil berjongkok didepannya.
“Ana pasti kangen kehangatan ini.” Ucap Ira sembari memeluk kami berdua.
***Flas Back***
          Brrrraaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk…
“Bunyi apa itu Rin?” Tanyaku penasaran sambil mencari cari sumber bunyi.
“Asthagfirullah, ada tabrak lari Nir.” Ucap Rina mengagetkanku.
“Ayo kita kesana.” Jawabku sambil berlari menuju arah bunyi.
          Tak kusangka, gadis yang tergeletak berlumuran darah itu adalah Ira. Hatiku sempat berkta tidak untuk menolak menolongnya, namun Allah masih menyayangiku. Dia titipkan aku rasa iba sehingga akupun dengan tangkas membawa Ira masuk kemobilku, kebetulan hari ini kami memakai mobil karena memang ada beberapa benda berat yang mengharuskan kami memakai mobil.
***Skip***
“Alhamdulillah kamu sudah sadar. “ Sapaku pada Ira yang kini sudah sadar.
“Gwe dimana.” Tanyanya melihat sekeliling kemudian mencoba berdiri namun “Awwwww, kenapa kakiku tak bisa aku gerakkan.” Teriaknya diiringi tangis.
“Sabar Ra, Rina lagi manggilin dokter.” Ucapku menenangkannya.
“Apaaa yang terjadi sama kaki Gwe.” Tanyanyaa sambil memukul mukul kakinya.

          Tak terasa air mata kami pun menetes sedikit demi sedikit. Sungguh indah saat-saat yang aku lalui bersamanya, dia mengajarkanku banyak hal, memberikanku sebuah kenanga yang takkan pernah aku lupa. Hari ini dia Nampak berbeda, mungkin karena wajah polosnya dihiasi beberapa warna pastel karena make-up diwajahnya, serta kebaya Biru muda yang berpadu dengan jilbab biru muda. Sungguh luar biasa, wajar saja banyak ikhwan yang mengejar ngejar dia, namun dia menolak hanya karena dia takut Allah cemburu. 
***Flash Back***
“Ukh, anti tau kan kao akh Irwan itu naksir sama anti.” Tanyaku menyelidik.
“Iya, tau donk tteruuuss.” Jawabnya santai
“Heh” aku mengerutkan dahi “Koq terus sih.” Tanyaku bingung
“Iya, maksud ana kalo ana tau knapa ukhti saying.” Ucapnya sembari melakukan kebiasaanya mencubit pipi chubbyku.
“Dia pernah nembak ukhti, right?” tanyaku lagi.
“Iya, via telepon. Terus?” jawabnya singkat.
“Truusss, ceritaaaa donk ukh.” Ucpku sembari menyenggol nyenggol lengannya.
“Ya deh , iya.” Ucapnya sembari membenarkan sandarannya kemudian melanjutkan ceritanya. “Kemarin Akh. Irwan nelepon, dia bilang cinta sama ana, tapi ana tolak.” Jwabnya sembari membalik halaman bukunya.
“Hew, koq ditola sih bukannya akh, Irwan itu idola anggota KDK yah, sama th kyk Akh. Reza dan Akh. Ilham.” Cerocosku
“Ana takut Ukh, ana takut Allah cemburu sama ana kalau ana jadian sama Akh.Irwan” jawabnya membuatku bingung.
“Koq gitu, bukannya Ukhti juga suka yah” Tanyaku tambah bingung.
“Iya sih, tapikan kalo orang pacaran kebanyakan klo pacaran pasti deh romantic romantisan, padahalkan bukan Mahromnya, ntar Allah cemburu. Terus yah aku takut kalo pas lagi keasyikan pacaran aku lupa memuji-Nya nanti yang ada ana mala muji ak. Irwan mulu. Lagi pula alau Akh. Irwan jodoh ana, dia tak akan lari koq Hehehehe ”jawabnya sembari melihatkan gingsulnya.
“Owh gitu yah Ukh, Sip sip siiippp lah. Ana kagum sama anti.” Sahutku sambil menepuk nepuk bahunya.
          Semenjak saat itu aku berusaha memendam cintaku pada Akh. Reza, aku hanya mendoakannya dikala aku sholat berharap Allah selalu memberikan jalan terbaik untuk kami.
***Flash On***
“Assalamualaikum Ukhtiku sayaannggg.” Ucap seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam Ukhtii, ana kangenn antii” jawabku setelah menyadari bahwa seseorang yang meneleponku adalah sahabatku.
“Gimana kabar anti, ana juga kangen sama ukhti?” Tanya Rina
“Alhamdulillah Fine Ukh, anti?” tanyaku balik
“So do I ukh, afwah yah kalau ana ganggu ukhti.” Ucapnya singkat.
“Na’am, gk ppa ukh kebetulan lagi santai nih. Ada yang bisa ana bantu ukh?” tanyaku penasaran.
“Emmmmmm, ana mau undang anti ke acara pernikahan ana dengan Akh. Irwan. Hehehehe.” Ucap Rina yang lumayan mengagetkanku.
“Alhamdulillah ukhti udah nemu imamnya, ana kapann yh.” Ucapku sedih lalu melanjutkan pembicaraanku. “Kapan Ukh?” tsanyaku singkat.
“InsyaAllah minggu depan ukh, tenangg ukh sabar aja InsyaAllah anti nyusul ana secepatnya. Amieenn” jawab Rina sembari memberikan do’a.
“InsyaAllah Ukh, ana usahakan ya.” Jawabku singkat.
“awasnya, kalo anti gk dating ana gk jadi nikah. Hahahhahaha.” Canda Rins.
“Hahahaa, anti aneh aneh saja ukh.” Jawabku singkat.
“Ya udah, syukron yah udah mau nemenin ngobrol.” Ucap Rina
“Sama-sama ukh, syukron juga undangannya.” Balasku sambil sedikit tertawa.
“Assalamualaikum Ukh.” Ucap rina mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku sembari menutup telepon.
***Skip***
         Tamu yang berdatangan silih berganti, hari itu sunggu merupakan hari special sahabatku karena cinta yang dulunya dia simpan rapat kini telah menjadi nyata, taktau entah kapan aku duduk disana, menyusul Rina menyempurnakan ibadahku. Mungkinkah Reza yang nantinya akan berada disampingku. Ya Rabb sungguh aku lemah pada cinta ini, jika bukan dia jodohku jagalah aku dari rasa sakit dan kecewa.
“Niraaaa.” Panggil Rina melambai kearahku.
         Akupun mendatanginya, betapa kagetnya aku melihat seseorang yang berada disebelah Irwan, ya dialah Imam yang aku harapkan.
“Foto dulu donk, siapa tau ketularan” ucap Rina menarikku agar berdiri disampingnya.
“Iyah, amien.” Jawabku sambil sesekali melirik ke arah Reza.
“Siaap, 1..2..3..” Ucap sang fotograper.
         Jepreeetttttttttzzzzz..
***Skip***
“Assalamualaikum.” sapa seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam Ukh.” Jawabku pada orang disebserang sana.
“Ukh, InsyaAllah ana akan pindah kebandung Bulan depan.” Ucapan Rina membuatku senang.
“Alhamdulillah, akhirnya kebandung juga yh ukh.” Sahutku semangat.
“Iya nih, Mas Irwan pindah tugas ke RS yang letaknya di Bandung, katnaya si kekurangan dokter.” Jelas Rina.
“Owh begitu, udah dapat rumah disini belum Ukh, biar ana bantu cari.” Tanya ku menawarkan bantuan.
“Syukron Ukh, disana udah ada rumah dinasnya Mas Irwan.” Jawab Rina.
“Alhamdulillah lah kalau begitu, ana tunggu ukh.” Jawabku singkat.
“Iya Ukh, ya sudah ana mau menyiapkan makan siang dulu.”
“Iya dehh Umi, hahaha :D Assalamualaikum.” Ucapku mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam sayangg.” Jawab Rina sembari mentutup telepon
***Skip***
         Hari ini keluarga Rina pindah ke bandung, aku yang sudah d’kirimi sms alamatnyapun langsung menuju rumahnya. Alhamdulillah jarak yang akan aku tempuh tidak begitu jauh sehingga aku sudah sampai disana dalam waktu beberapa menit. Aku begitu merindukan sahabatku tersebut sehingga membuatku berangkat lebih awal. Setelah sampai dirumah tersebut, akupun menunggu Rina. Tak beberapa lama mereka dating, tanpa piker panjang akupun langsung memeluk sahabatku tersebut.
“Perutnya udah besar nihh, gimana sehat kan Rin?” Tanyaku sambil mengelus perutnya yang sudah membesar karena sedang hamil tua.
“Alhamdulillah sehat Nir, cuman terkadang gak nafsu makan Alhamdulillah ada dokter pribadi jadi ada yang ngobatin.” Ucap Rina sembari melirik suaminya yang sedari tadi kami cueki.
“Masuk dulu yuk” Ajak kak Irwan pada kami.
“Yuk marii.” Jawabku sembari melingkarkan tangan di pinggang sahabatku itu.
“Maassiihh aja tuh genit, masa ana dirangkul.” Canda Rina padaku.
“Ahhh, bilang aja anti juga suka.” Sahutku sembari mencubit dagunya yang panjang.
***Skip***
         Sudah hampir sebulan Rina menetap di Bandung, ini kunjungan aku yang kesekian kalinya. Tak seperti biasanya, pembicaraan kami kali ini terasa lebih serius.
“Ukh, Mas Irwan punya seorang sahabat yang sedang mencari seorang istri solehah, yang mampu mengingatkannya dikala lalai, menegurnya dikala salah. Dan ana ras, Ukhti-lah yang cocok. Apa Ukhti bersedia?” Tanya Rina membuka pembicaraan.
“Tapii Ukh.” Suaraku terpotong “Ana tak sebaik yang ukhti fikirkan.” Jawabku merendah.
“Ahh, Ukhti terlalu merendah. Anti coba saja dulu ta’aruf kita tak pernah tau jika belum mencoba.” Ucap Rina meyakinkanku.
          Sesaat aku berfikir, namun kemudian aku mengangguk, tanda aku menyetujui sahabatku ini. Memang dari dulu Rina selalu berusaha memberikan segala yang terbaik untuk orang orang di sekitarnya.
“Alhamdulillah.” Ucap Rina bersyukur “Minggu depan apa Ukhti bersedia menemuinya?” Tanya Rina kemudian mempersilahkan aku minum.
“InsyaAllah.” Jawabku singkat kemudian menghirup teh yang tadi Rina suguhkan.
***Skip***
Gimana untuk ta’arufnya, jadi nggak Mas?” Tanya seseorang diseberang tirai yang sepertinya  sudah tidak sabar.
Aku hanya tersenyum. Saat Rina melihatku dengan senyuman. Sepertinya dia tau bahwa saat ini aku sedang gugup.
“Ya pasti jadi, Akh! Nih akhwatnya kan sudah dari tadi diruang tabir kedua” Jawab
Mas Irwan.
          Spontan rasanya Ikhwan tersebut langsung terdiam. Aku juga diam saja, aku malu. Aku malu karena sejak dari tadi aku sudah berada disini. Dan mendengar Ikhwan itu.
“Assalamualaikum” Salam Mas Irwan.
“Walaikumsalam” Serempak terdengar jawaban.
“Gimana Bi, apa sudah bisa dimulai proses ta’arufnya” Tanya Rina, pada suaminya.
“Iya, bisa langsung dimulai!” Ucap Mas Irwan. “Silakan Akhi, untuk menanyakan sesuatu hal yang ingin antum tanyakan.Lanjut Mas Irwan, mempersilahkan.
          Tak lama kemudian Ikhwan tersebut membuka pembicaraan. Suaranya amat familiar ditelingaku.
“Assalamualaikum Ukhti.” Sapa lelaki itu, entah siapakah dia.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku singkat.
“kalau boleh ana tau, siapakah gerangan ukhti yang berada di tirai sebelah.” Tanyanya singkat.
ARSA MAUNIRA ANNISATUL FARIDA, antum.?” Aku balik bertanya.
MUHAMMAD REZA FARIZKY ADITYA.” Jawabnya singkat yang kemudian membuat ruangn menjadi hening.
          Tak pernah ku sangka bahwa Ikhwan tersebut adalah Reza. Allah telah mengabulkan doa di setiap sujud sujud terakhir sholatku.
“Ana sudah lama mencintai ukhti, namun baru saat ini ana berani mengutarakkannya. Ana sudah berjanji bahwa ana akan mencintai Ukhti seperti Ukhti mencintai ana.” Ucap Reza memecahkan keheningan.
“Cara ana mencintai Antum?” Tanyaku kebingungan.
“Iya, ana menemukan sebuah catatan singkat anti. Afwan jikalau ana lancang karena membacannya tanpa seizin anti.” Jawab Reza menjelaskan.
          Penjelasannya membuatku teringat pada kecerobohanku pada saat kami masih tergabung dalam suatu organisasi, Kajian Dakwah Kampus.
***Flash Back***
“Assalamualaikum, ini benar ukhti Maunira?” Tanya seseorang diseberang sana.
“Wa’alaikumussalam, Iya ini Nira. Afwan, akhi siapa yh, ada perlu ap?” tanyaku penasaran.
“Ana Reza Ukh, Afawan kalau menggangu Ukhti.” Jawab seseorang diseberang sana yang ternyata adalah Reza.
          Hah, Akhi Reza ngapain nelepon nih jangan janggaaan jangaann dia…
“Ukh, anti masih disana kan.” Ucap Reza mengagetkanku.
“Eh akhi. Afwan kalau boleh tau ada apa akhi, ada yang bisa ana bantu?” Tnyaku sembari menahan degup jantungku yang semakin keras.
“Iya Ukh, Ana mau pinjam buku Administrasi KDK soalnya ana mau bikin laporannya Ukh, Bisa?” Jelasnya singkat.
“Na’am Akhi, kebetulan ana baru aja menjumlah semua pengeluaran KDK” jawabku singkat. Aku terlalu takut, aku takut tak bisa menahan rasa ini.
“Besok tolong bawa ya Ukh.” Ucap Reza singkat.
“Na’am” sahutku singkat.
“Ya sudah, syukron Ukh, Assalamualaikum” ucap Reza mengakhiri pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.” Jawabku sembari menutup telepon.
          Aku menulis isi hatiku di secarik kertas. Aku sengaja menulis di secarik kertas agar aku bisa menyimpannya secara terpisah. Aku lebih senang mengungkapkan segala yang aku rasa melalu sebuah tulisan daripada menceritakannya kepada orang lain karna memang aku pribadi yang lumayan tertutup. Akupun mulai menulis isi hatiku.
Beginilah Caraku Mencintaimu
Aku mencintaimu dengan menundukkan wajahku padamu, bukan karena aq ingin berpaling darimu namun karena aku ingin menjagamu dari panah-panah iblis.
Aku mencintaimu dengan tidak melemah lembutkan suaraku bukan karena aku ingin menyakitimu namun karena aku ingin menjaga hatimu dari bisik setan yang menipu.
Ku mencintaimu dengan menjauh darimu, bukan karena aku membencimu namun karena kuingin menjagamu dari khalawat yang mnjebak.
Ku mencintaimu degan menjaga dirimu dan diriku.
Menjaga kesucianmu dan kesucianku.
Menjaga Kehormatanmu dan kehormatankuku.
Menjaga Kebeningan hatimu dan hatiku.
Cinta..
Tak mengapa saat ini kita jauh, karna kelak Allah yang akan menyatukan kita dalam ikatan sucinya. karena itu jauh lebih berarti, jauh lebih abdi, karena ku yakin janji Allah adalah pasti.
Wanita yang baik untuk lelaki yang baik
Seperti inilah caraku mencintaimu, dengan menjaga kesucian diri, jiwa dan hati hanya untuk ku persembahkan padamu kelak.
Ya RABB padaMU ku titipkan cintaku padanya
Dia yang kucinta, Muhammad Reza Farizky Aditya..
Amien..
“Ukh, udah jam 9 nih, tidur yuk” Ajak Rina sedikit berteriak.
          Aku yang sedari tadi menulispun kaget, akhirnya aku memberskan semua buku yang berserakan termasuk buku administrasi dan catatanku barusan.
“Sipppp Umi.” Ucapku pada Rina, aku terbiasa memanggilnya umi saat dia bertingkah sepert ibuku.
***Skip***
          Hari ini aku harus menemui Reza, sang ketua KDK. Maklum lah aku bendaharanya jadi aku harus memberikan laporan keuangan sebulan sekali. Kebetulan semester sudah muali berakhir sehingga Reza harus membuat laporan agar adanya keterbukaan tentang dana dan kegiatan yang telah terselenggara.
“Assalamualaikum.” Ucapku sembari mengetok pintu ruang KDK.
“Wa’alaikumussalam.”Sahut beberapa anggota KDK termasuk Rina. Rupanya mereka sedang mempertangung jawabkan tugas mereka bulan ini.
“Eh ukhti Nira, bolen ana pinjam bukunya.” Tanpa piker panjang akupun langsung memberikannya.
“Ana ke kelas duluah yah soalnya ada kuliah.” Ucapku pada seisi ruangan.
“Iya, silahkan Nir.” Jawab Rina sembari melemparkan senyum manisnya.
“Assalamualaikum.” Ucapku sembari berjalan keluar ruangan menuju ruang kelas.
***Flash On***
“Anti masih ingat kan dengan buku administrasi, ana menemukan kertas itu disana. Afwan kalau ana lancang, awalnya ana fikir itu adalah lembar catatan administrasi yang terlepas, ternyata itu adalah susunan kata yang begitu indah, yang mampu menggetarkan hati ana.” Jelas Reza panjang lebar.
“Astagfirullah, rupanya kertas itu terselip disana. Afwa, ana malu atas kecerobohan ana.” Jawabku sambil menunduk.
“Gak ppa Ukh, karena kertas itu ana bisa menjadi focus kembali dengan kuliah ana, dengan tanggung jawab ana, karena ana yakin anti akan sabar menunggu ana.” Ucap Reza membingungkanku.
”Maksudnya?” Tanyaku bingung
“Afwan semenjak anti memutuskan ikut KDK, ana mulai merasa kagum kepada anti.Anti begitu bersemangat seolah olah siapapun yang berada di dekat anti juga akan merasakan energy positif yang anti sebarkan. Semenjak itu pula ana mulai tidak focus dengan sema yang ana fikirkan karena ana takut anti bukanlah tulang rusuk ana.” Jelas Reza.
“Syukron telah mengagumi ana. Semoga akhi tidak menyesal. Amien.” Jawabku ringkas
“Apakah ukhti mau menjadi ibu dari anak anak ana, menjadi ma’mum ana.” Tanya Reza penuh percaya diri.
Suasana menjadi hening, aku tak percaya hal ini bisa terjadi aku tak menyangka ternyata lelaki yang selama ini aku kagumi juga mengagumiku tanpa sepengtahuanku.
“Bagaimana Uk.” Tanya Reza Mengagetkanku
“Bismillahirrahmanirrahim, ya ana mau menjadi ma’mum akhi.
“Apakah ukhti serius?” Tanya Reza untuk meyakinkan hatinya.
“Iya, Ana serius Akh, ana bersedia menjadi ibu dari anak anak antum.” Jawabku dibarengi rasa syukur di dalam hati.
***Skip***
          Tak pernah aku bayangkan hal ini terjadi, lelaki yang aku kagumi kini berada disampingku. Reza telah menjadi imamku, sungguh besar kuasa-Nya yang membuat segalanya menjadi indah pada waktunya. Dalam diam aku mencintainya, mencintainya dengan segenap rasa. Cinta yang Allah titipkan sungguh membuatku semakin dekat dengan-Nya.

THE END

2 komentar:

  1. mantap saiii....hehe

    q cba blajar jua maolahnya ..heheee.. tentang hdup q..hd

    BalasHapus
  2. Manaaaa cerita tntng OXTEAM sayaangggg???

    BalasHapus